Hadrah atau lebih dikenal dengan sebutan terbangan tak lepas dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Makna hadrah dari segi bahasa arab diambil dari kalimat bahasa arab yakni hadhoro-yudhiru-hadhron atau hadhrotan yang artinya kehadiran. Namun kebanyakan hadrah dikenal sebagai irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana. Dari segi istilah, hadrah menurut tasawuf merupakan suatu metode yang bermanfaat untuk membuka jalan masuk ke hati, karena orang yang melakukan hadrah dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah dan Rasul-Nya. Seni ini memiliki semangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Hadrah atau yang lebih populer dengan musik terbangan (rebana-bahasa jawa) tersebut tak lepas dari sejarah perkembangan dakwah Islam para Walisongo.
Sampai saat ini hadrah telah berkembang pesat di masyarakat Indonesia sebagai musik yang mengiringi pernikahan, sunatan, kelahiran bayi, acara festival seni musik islami, kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, remaja masjid dan majlis ta'lim. Musik hadrah atau rebana atau musik terbang diperkirakan berasal dari bentuk-bentuk musik yang bercirikan Islam yang ada sebelumnya. Bentuk-bentuk musik tersebut adalah (1) Shalawatan yaitu bentuk puji-pujian yang mengagungkan kebesaran Nabi Muhammad SAW ; (2) Barzanji yaitu jenis musik vokal yang bercirikan Islam; (3) Kentrung yaitu musik bercirikan Islam yang diperkirakan paling awal kedatangannya di pulau Jawa, berkembang di daerah Blora, Pati, Jepara dan Purwodadi; (4) Zapin pesisiran yaitu kesenian tarian yang diiringi dengan terbangan, berkembang di Demak dan Semarang; (5) Kuntulan yaitu tarian yang diiringi oleh musik terbangan, dan berkembang di Daerah Kendal, Pemalang sampai Tegal; (6) Simtuddruor yaitu kesenian musik sholawatan dengan membaca kitab maulid yang bernama Simtudduror dengan diiringi musik terbang, dan musik ini berkembang di daerah Pekalongan, Kendal dan Semarang; (7) Gambus yaitu musik yang bercirikan Islam dan mendapat pengaruh dari Arab dengan alat musik gambus, dan berkembang di daerah pantura pulau Jawa.
Musik terbang hadrah merupakan nyanyian Islami atau shalawat yang diiringi dengan permainan beberapa alat musik terbang atau ansambel. Terbang yang dipergunakan dalam terbang hadrah yaitu (1) terbang genjring, dalam permainan terbang hadrah berfungsi sebagai pola pukulan utama dalam mengiring lagu; (2) terbang keprak, dalam permainan terbang hadrah berfungsi memberi tekanan pada lagu, biasanya pada posisi naik atau rol; (3) terbang dumbuk atau marawis, mengingat karakter suaranya yang lembut dan pola pukulannya yang rapat, dalam terbang hadrah berfungsi mengisi kekosongan pukulan; (4) terbang tung, dalam terbang hadrah mengawal tempo dan pergerakan pukulan bas; (5) terbang bas, dalam terbang hadrah membentuk pola pukulan bas.
Musik terbang hadrah merupakan permainan musik terbang sederhana, baik pola pukulan dari masing-masing alat musik, maupun lagunya. Syair lagu terbang hadrah berbentuk bait-bait, maksudnya syair lagu terbang hadrah terdiri dari beberapa bait, dan tiap bait terdiri dari empat baris, sehingga tidak menyulitkan bagi para pemula. Lagulagu terbang hadrah bervariasi, ada yang menggunakan syair berbahasa Arab, bahasa Indonesia dan bahasa Jawa.
Maka dari itu KKN UNU Purwokerto melalui kegiatan pengabdian masyarakat membuat program pelatihan hadroh di Musholla Al-Ikhlas dan MI Ma'arif NU 1 Kebanaran yang diharapkan mampu menjadi media peningkatan karakter religius pada anak. Kegiatan ini juga sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian kesenian Islam. Metode pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan saling berkoordinasi dengan mitra untuk menentukan jadwal pelatihan serta perijinan lokasi pelatihan dan peminjaman fasilitas pelatihan hadroh. Selain pelatihan hadroh, kegiatan ini juga dibarengi dengan berlatih membaca Al- Qur'an. Kegiatan ini sudah mulai aktif sejak 27 Juli 2023 bertempat di Musholla Al-Ikhlas Desa Kebanaran. Sedangkan pelatihan hadroh di MI Ma'arif NU Kebanaran aktif sejak tanggal 2 Agustus 2023.